PINTU I
PENGETAHUAN,
ILMU PENGETAHUAN, DAN FILSAFAT ILMU
A.
FILSAFAT SEBAGAI ILMU PENGETAHUAN
Pengetahuan merupakan
hasil “ Tahu “ dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap
suatu objek tertentu yang mana penginderaan ini terjadi melalui panca indera. Pada
prinsipnya ilmu merupakan usaha untuk mengorganisir dan mensitematisasikan
sesuatu. Ilmu merupakan suatu bentuk aktiva yang dengan melakukannya umat
manusia memperoleh suatu lebih lengkap dan lebih cermat tentang alam masa
lampau, sekarang dan kemudian serta suatu kemampuan yang meningkat untuk
menyesuaikan dirinya.
Ada tiga dasar
ilmu yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Penegasan ilmu diletakkan pada
tolak ukur dari sisi fenomenaal dan struktural. Dalam dimensi fenomenal ilmu
menampakkan diri pada hal-hal berikut : Masyarakat , Proses , Produk.
Filsafat
sebagai proses berpikir yang sistematis dan radikal juga memiliki objek
material yaitu segala yang ada. Ada yang tampak adalah alam fisik/empiris,
sedangkan yang tidak tampak adalah alam metafisika.
B.
PERBEDAAN
FILSAFAT DENGAN AGAMA
v
Filsafat
·
Filsafat dalam cara kerjanya bertolak dari akal.
·
Filsafat banyak kaitan dengan berfikir.
·
Filsafat membahas sesuatu dalam rangka melihat kebenaran yang
diukur, apakah sesuatu itu logis atau bukan.
v
Agama
·
Agama bertolak dari wahyu.
·
Agama banyak terkait dengan pengalaman.
·
Agama tidak selalu mengukur kebenaran dari segi logisnya karena
agama kadang-kadang tidak memperhatikan aspek logisnya.
C.
PERBEDAAN
PENGETAHUAN DAN KEBIJAKSANAAN
v
Pengetahuan
-
Pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun,
baik mengenai metafisik maupun fisik.
-
Pengetahuan berakar dari pada adat dan tradisi yang menjadi
kebiasaan dan pengulangan-pengulangan.
-
Pencarian pengetahuan lebih cenderung trial and error dan
berdasarkan pengalaman belaka.
-
Runag lingkup pengetahuan secara ontologi, epistemologi dan
aksiologi ada tiga, yaitu ilmu, agama dan seni.
v
Kebijaksanaan
-
Kebijaksanaan bukanlah soal teori namun soal praksis. Bagaimana
kita bertindak dan bersikap jauh lebih penting daripada sekedar berteori.
-
Kebijaksanaan mengendalikan visi integrative.
-
Tiga jenis pengetahuan ( ilmiah, moral, dan religius )
masing-masing memiliki peranan dalam menjadikan seseorang bijaksana, karena
manusia harus selalu melihat ke atas ( Tuhan ), ke kanan-kiri ( sesama ), dan
ke luar ( alam ).
D.
RUANG LINGKUP
FILSAFAT ILMU
a)
Pengertian Filsafat Ilmu
Menurut hemat Limas Dodi, filsafat ilmu merupakan telaah
kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang
ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologinya. Dengan kata
lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan)
yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu, seperti obyek apa yang ditelaah
ilmu? Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut? Dan lain sebagainya.
b)
Obyek Filsafat Ilmu
Dalam perspektif ini dapat diuraikan bahwa filsafat ilmu pada
prinsipnya memiliki dua obyek substansif dan dua obyek instrumentatif, yaitu :
1.
Obyek Substantif, yang terdiri dari dua hal antara lain :
-
Fakta (Kenyataan)
Empiris yang dapat dihayati oleh manusia dalam memahami fakta.
-
Kebenaran
Rumusan substantif tentang kebenaran ada beberapa teori, menurut
Michael Williams ada lima teori kebenaran, yaitu : Kebenaran Preporsisi,
Kebenaran Korespondensi, Kebenaran Koherensi atau Konsistensi, Kebenaran
Performatif, dan Kebenaran Pragmatik.
2.
Obyek Instrumentatif, yang terdiri dari dua hal antara lain :
-
Konfirmasi
Dalam hal konfirmasi sampai saat ini dikenal ada tiga teori
konfirmasi, yaitu : Decision Theory, Estimation Theory, dan Reliability
Analysis.
-
Logika Inferensi
Studi logika adalah studi tentang tipe-tipe tata pikir.
c)
Ruang Lingkup Filsafat Ilmu
Filsafat oleh para filosofi disebut sebagai induk ilmu. Dan dalam
taraf peralihan ini filsafat tidak mencakup , keseluruhan tetapi sudah menjadi
sektoral.
d)
Problema Filsafat Ilmu
1.
Problem menurut Michael Berry
-
Bagaimanakah kuantitas dan rumusan masalah dalam teori-teori ilmiah
bertaalian dengan peristiwa-peristiwa dalam dunia alamiah diluar pikiran kita?
-
Bagaimanakah dapat dikatakan bahwa teori/dalil ilmiah adalah benar
berdasarkan induksi dari sejumlah percobaan yang terbatas?
2.
Problem menurut Victor Lenzen
-
Struktur ilmu yaitu metode dan bentuk pengetahuan ilmiah.
-
Pentingnya ilmu bagi praktek dan pengetahuan tentang realitas.
3.
Problem menurut J.J.C. Smart
-
Pertanyaan-pertanyaan tentang ilmu.
-
Kajian filsafati yang mempergunakan ilmu.
e)
Manfaat Belajar Filsafat Ilmu
Berikut adalah beberapa manfaat dari belajar filsafat ilmu :
1.
Menumbuh-kembangkan ilmu pengetahuan menuju kemuliaan sehingga
mampu menebus dimensi sekularisme dimensi ilmu pengetahuan.
2. Membentuk dan
mengembangkan wawasan epistemology ilmu pengetahuan sehingga moralitas
kesarjanaan, yaitu sifat ilmiah menjadi popular.
PINTU II
SISTEMATIKA FILSAFAT
A. EPISTEMOLOGI
-
Secara harfiah, episteme berarti pengetahuan sebagai upaya
intelektual untuk menempatkan sesuatu dalam kedudukan setepatnya
-
Epistemologi merupakan salah satu cabang filsafat yang
mempersoalkan masalah hakikat pengetahuan.
-
Epistemologi juga disebut dengan logika, yaitu ilmu tentang
pikiran. Logika dibedaakan menjadi 2, yaitu
a.
Logika minor, mempelajari strukturberfikir da dalil-dalilnya,
seperti silogisme.
b.
Logikamayor, mempelajari hal pengetahuan, kebenaran,dan kepastian
yang sama ruanglingkupnya seperti epistemologi.
-
Epistemologi juga disebut
dengan teori pengetahuan ( theory of knowledge), dapat didefinisikan
sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula sumber, struktur, metode dah validitasnya pengetahuan.
Cara
Kerja Epistemologi
Harold
Titus menjelaskan 3 persoalan dalam bidang epistemologi
1.
Apakah sumber pengetahuan
itu, dan darimanakah datangnya pengetahuan yang benar, serta bagaimana
mengetahuinya?
2. Apakah sifat
dasarnya, adakah dunia yang benar-benaer dipikiran kita, serta kalau ada,
apakah kita dapat mengetahuinya?
3.
Apakah pengetahuan itu valid, dan bagaimana membedakan benar atau
salah?
Kattsof
menyatakan bahwa pertanyaan epistemologi ada 2 macam, yakni
a.
Epistemologi itu kefilsafatan yang berhubungan dengan psikologi,dan
pertanyaannya yang menyayangkan hubungan antara pengetahuan dan objeknya.
b.
Epistemologi adalah sumber, sarana, dan tata cara, menggunakan itu
untuk mencapai pengetahuan.
Metode
Pendekatan
Pengetahuan
yang diperoleh manusia melalui akal, indera dan lain lain mempunyai metode
tersendiri dalamteori pengetahuan.
1.
Metode Induktif.
2. Deduktif.
3. Positivisme.
4. Kontemplatif.
5.
Dialektis.
Macam-macam
epistemologi
Menurut gejala pengetahuan
1.
Epistemologi Metafisis
2.
Epistemologi skeptis
3.
Epistemologi kritis
Berdasarkan titik tolak pendekatannya
1.
Epistemologi individual.
2.
Epistemologi sosial.
B. ONTOLOGI
-
Menurut bahasa, Ontologi berasal dari bahasa Yunani “on/ontos=
ada”, dan “Logos=ilmu”. Jadi ontologi adalah ilmu tentang yang ada.
Sedangkan
menurut istilah ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada,
yang merupakan ultimate reality yang berbentuk jasmani/konkret maupun
rohani/abstrak.
-
Pengertian yang paling umum dari ontologi ialah merupakan bagian
dari filsafat yang mencoba mencari hakikat dari sesuatu. Ontologi memberikan
penjelasan secara eksplisit dari konsep
terhadap representasi pengetahuan pada sebuah knowledge base
(pengetahuan dasar). Dengan demikian ontologi juga merupakan sebuah teori
tentang suatu makna dari suatu objek, property dari suatu obyek, serta relasi
objek tersebut yang mungkin terjadi pada suatu pengetahuan. Dan intinya,
ontologi merupakan studi tentang sesuatu yang ada.
-
Bagus memberikan karakteristik terhadap ontologi sebagai berikut:
1. Ontologi adalah
studi tentang arti “ada” dan “berada”, tentang ciri-ciri esensial dari yang ada
dalam dirinya sendiri, menurut bentuk yang paling abstrak.
2. Ontologi adalah
cabnag filsafat ilmu yang mempelajari tata dan struktur dan realitas dalam arti
seluas mungkin, dengan menggunakan kategori-kategori seperti: ada atau menjadi,
aktualitas atau potensialitas, nyata atau kenampakan, esensi atau eksistensi,
kesempurnaan, ruang dan waktu, perubahan, dsb.
3. Ontologi adalah
cabang filsafat yang mencoba menuliskan hakikat terakhir yang ada, yaitu yang
satu, yang absolute, bentuk abadi, sempurna, dan keberadaan segala sesuatu yang
mutlak bergantung kepada-Nya.
4. Cabang filsafat
yang mempelajari tentang status realitas apakah nyata atau semu, apakah pikiran
itu nyata, dan sebagainya.
-
Menurut SURIASUMATRI ontologi membahas tentang apa yang ingin kita
ketahui, seberapa jauh kita ingin tau, dengan kata lain suatu pengkajian
mengenai teory tentang “ada”.
-
Menurut mereka, ontologi yaitu merupakan azas dalam menerapkan
batas atau ruang lingkup wujud yang menjadi objek penelaahan (objek ontologis
atau objek formal dari pengetahuan) serta penafsiran tentang hakekat realita
(metafisika) dari objek ontologi atau objek formal tersebut dapat merupakan
landasan ilmu yang menanyakan apa yang dikaji oleh pengetahuan dan biasanya berkaitan
dengan alam kenyataan dan keberadaan.
Aliran dalam Ontologi
-
Ontologi yang bersahaja.
-
Pendekatan kuantitatif akan mempertanyakan “apakah kenyataan itu
tunggal atau jamak?”, sedangkan pendekatan kualitatif akan menanyakan “di
kesimpulannya, apakah yang merupakan kenyataan itu?”
-
Ontologi Monistik
Cara menyelesaikan masalah
-
Naturalisme.
-
Materialisme.
-
Idealisme,
-
Dualisme.
-
Agnositisme
C. AKSIOLOGI
-
Menurut bahasa Yunani, aksiologi berasal dari kata axios
artinya nilai dan logos artinya teori atau ilmu. Menurut KBBI, aksiologi
adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang
nilai-nilai khususnya etika. Dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan
aksiologi disamakan dengan value and valuation.
-
Nilai digunakan sebagai kata benda abstrak, dalam arti sempit
seperti baik, menarik dan bagus. Sedangkan dalam arti luas mencakup sebagai
tambahan segala bentuk kewajiban, kebenaran, kesucian.
-
Dari definisi diatas dapat dilihat permasalahan utama adalah
mengenai nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk
melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Teori tentang nilai
yang dalam filsafat mengacu pada masalah etika dan estetika. Aksiologi ilmu
terdiri dari nilai-nilai yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap
kebenaran atau kenyataan.
-
Nilai kegunaan ilmu, untuk mengetahui kegunaan filsafat ilmu atau
unutk apa filsafat ilmu itu digunakan, kita dapat memulainya dengan melihat
filsafat sebagai tiga hal, yaitu:
1.
Filsafat sebagai kumpulan teori digunakan memahami dan mereaksi
dunia pemikiran.
2.
Filsafat sebagai pandangan hidup.
3.
Filsafat sebagai metodologi dalam memecahkan masalah.
-
Nilai itu bersifat objektif, tapi kadang-kadang subjektif.
Dikatakan objektif jika nilai-nilai tidak tergantung pada subjek atau kesadaran
yang menilai. Nilai menjadi subjektif apabila subjek perperan dalam memberi
penilaian.
PINTU III
Rasionalisme,
Empirisme dan Kritisisme
A. Rasionalisme
Aliran ini
menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang
benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia memperoleh pengetahuan melalui
kegiatan menangkap objek. Bagi aliran ini, kekeliruan pada aliran empirisme
yang disebabkan kelemahan alat indera dapat dikoreksi, seandainya akal digunakan.
Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indera dalam memperoleh pengetahuan.
Pengalaman indera diperlukan untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan
yang menyebabkan akal dapat bekerja, tetapi sampainya manusia kepada kebenaran
adalah semata-mata akal.
Para penganut
rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak dalam ide dan
bukannya didalam diri barang sesuatu
Dari penjabaran
diatas, yaitu aliran rasionalisme berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang
mencukupi dan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal). Hanya pengetahuan yang
diperoleh melalui akal lah yang memenuhi syarat yang dituntut oleh sifat umum
dan yang perlu mutlak. Tokoh-tokoh filsafat rasionalisme diantaranya:
1.
Rene Descartes (1596-1650)
2.
Gootfried Eihelm Von Leibniz
3.
Blaise Pascal
4.
Spinoza
B. Empirisme
kata ini
berasal dari kata Yunani empeirisko artinya pengalaman. Menurut aliran
ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Dan bila dikembalikan
kepada kata Yunaninya, pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman inderawi.
Pengetahuan inderawi bersifat parsial. Jadi pengetahuan inderawi berada
menurut perbedaan indera dan terbatas pada sensibilitas organ-organ tertentu.
John Locke,
bapak empiris Britania mengemukakan teori tabula rasa (sejenis buku catatan
kosong). Maksudnya ialah bahwa manusia pada mulanya kosong dari pengetahuan,
lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, lantas ia memiliki
pengetahuan.
David Hume,
salah satu tokoh empirisme mengatakan bahwa manusia tidak membawa pengetahuan
bawaan dalam hidupnya. Sumber pengetahuan adalah pengamatan. Pengamatan
memberikan dua hal, yaitu:
1.
Kesan-kesan (impression)
2.
Ide-ide (ideas)
Diantara
tokoh dan pengikut aliran empirisme adalah:
1.
Francis Bacon (1210-1292 M)
2.
Thomas Hobbes (1588-1679 M)
3.
John Locke (1632-1704 M)
4.
David Hume (1711-1776 M)
5.
Herbert Spencer (1820-1903 M)
Jadi,
dalam empirisme sumber utama untuk memperoleh pengetahuan adalah data empiris
yang diperoleh dari panca indera. Akal tidak berfungsi banyak, kalaupun ada,
itu sebatas ide yang kabur. Namun aliran ini mempunyai banyak kelemahan, antara
lain:
1.
Indera terbatas
2.
Indera menipu
3.
Objek yang menipu
4.
Berasal dari indera dan objek sekaligus.
C. Kritisisme
Aliran ini
dimulai di inggris, kemudian prancis dan selanjutnya menyebar keseluruh eropa,
terutama di Jerman. Dijerman pertentangan antara aliran rasionalisme dan
empirisme terus berlanjut. Masing-masing berebut otonomi. Aliran filsafat yang
dikenal dengan kritisisme adalah filsafat yang di introdusir oleh Immanuel
Kant. Filsafat ini memulai pelajarannya dengan menyelidiki batas-batas
kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia.
Pertentangan antara rasionalisme dan
empirisme dicoba untuk diselesaikan oleh Kant dengan kritisismenya. Adapun
ciri-ciri kritisisme diantaranya adalah sebagai berikut:
a.
Menganggap bahwa objek pengenalan itu berpusat pada subjek bukan
pada objek.
b.
Menegaskan keterbatasn kemampuan rasio manusia untuk mengetahui
realitas atau hakikiat sesuatu.
Pendirian
aliran rasionalisme dan empirisme dangat bertolak belakang. Immanuel Kant mengadakan
penyelesaian atas pertikaian itu dengan filsafatnya yang dinamakan kritisisme.
Untuk itulah ia menulis 3 buku yang berjudul:
1.
Kritik der Rainen Vernuft (kritik atas rasio murni)
2.
Kritik der Urteilskraft (kritik atas dasar pertimbangan)
3.
Kritik rasio praktis
Menurut
Kant, dalam pengenalan inderawi selalu sudah ada 2 bentuk apriori, yaitu ruang
dan waktu. Kedua-duanya berakar dalam struktur subyek sendiri. Memang ada suatu
realitas terlepas dari subyek yang mengindera, tetapi realitas tidak pernah
dikenalinya. Melalui filsafatnya, Kant bermaksud memugar sifat objektivitas
dunia ilmu pengetahuan.
Dan
berikut kami paparkan kritik terhadap rasionalisme, empirisme dan kombinasi
antara keduanya:
1.
Kritik Terhadap Rasionalisme
dalam hal ini ada tiga macam kritik yang dilontarkan Kant yaitu:
a.
Critique of Pure Reason (kritik atas rasio murni).
b.
Critique of Practical Reason (kritik atas rasio praktis)
c.
Critique of judgment atau kritik atas daya pertimbangan
Bentuk lain dari dari kritik terhadap rasionalisme adalah sebagai
berikut:
1.
Pengetahuan rasional dibentuk oleh idea yang tidak dapat dilihat
maupun diraba.
2.
Banyak diantara manusia yang berpikiran jauh, merasa bahwa mereka
menemukan kesukaran yang besar dalam menerapkan konsep rasional kepada masalah
kehidupan yang praktis.
3.
Teori rasional gagal dalam menjelaskan perubahan dan pertambahan
pengetahuan manusia selama ini.
2.
Kritik terhadap Empirisme
Empirisme didasarkan pada pengalaman. Tetapi apakah yang disebut
pengalaman?
a.
Sekali waktu dia hanya berarti rangsangan panca indera.
b.
Sebuah teori yang sangat menitikberatkan pada persepsi panca indera
kiranya melupakan kenyataan bahwa panca indera manusia adalah terbatas dan
tidak sempurna.
c.
Empirisme tidak memberikan kita kepastian.
3.
Kombinasi antara Rasionalisme dan Empirisme
Terdapat suatu anggapan yang luas bahwa ilmu pada dasarnya adalah
metode induktif-empiris dalam memperoleh pengetahuan. Memang terdapat beberapa
alasan untuk mendukung penilaian ini, karena ilmuwan mengumpulkan fakta-fakta
yang tertentu, melakukan pengamatan dan mempergunakan data inderawi.
PINTU IV
METODOLOGI ILMU
PENGETAHUAN
a.
Pengertian Metodologi
Metode sendiri
bisa diartikan ilmu yang mempelajari tentang metode-metode. Berasal dari bahasa
yunani yaitu Methodos. Menurut bahasa (etimologi), metode berasal dari
bahasa yunani, yaitu meta (sepanjang), hodos (jalan). Jadi metode adalah suatu
ilmu tentang cara atau langkah-langkah yang ditempuh dalam suatu disiplin
tertentu untuk mencapai tujuan tertentu.
Menurut istilah
“Metodologi” berasal dari bahasa yunani yakni methodos dan logos,
methodos berarti cara, kiat dan seluk beluk yang berkaitan dengan upaya
menyelesaikan sesuatu, sementara logos berarti ilmu pengetahuan, cakrawala dan
wawasan. Dengan demikian metodelogi adalah metode atau cara yang berlaku dalam
kajian atau penelitian.
Metodologi
adalah masalah yang sangat penting dalam sejarah pertumbuhan ilmu. Louay Safi
mendefinisikan metodologi sebagai bidang penelitian ilmiah yang berhubungan
dengan pembahsan tentang metode-metode yang digunakan dalam kajian fenomena
alam dan manusia atau dengan kata lain metodologi adalah bidang penelitian
ilmiah yang membenarkan, mendeskripsikan dan menjelaskan aturan-aturan,
prosedur-prosedur sebagai metode ilmiah.
b.
Unsur – unsur Metodologi
Unsur – unsur
metodologi sebagaiaman telah dirumuskan oleh Anton Bakker dan Achmad Zubair
dalm buku Metodeologi Penelitian Filsafat (1994), antara lain sebagai berikut :
1.
Interpretasi
Artinya menafsirkan, membuat tafsiran, tetapi yang tidak bersifat
subjektif melainkan harus bertumpuh pada evidensi objektif untuk mencapai
kebenaran yang autentik.
2.
Induksi dan Deduksi
Dikatakan oleh Beerling, setiap ilmu terdapat penggunaan metode induksi
dan deduksi, menurut pengertian siklus empiris.
3.
Koherensi Intern
Yaitu usaha untuk memahami secara benar guna memperoleh hakikat
dengan menunjukkan semua unsur structural di lihat dalam suatu sruktur yang
konsisten, sehingga benar-benar merupakan internal structure atau internal
relation.
4.
Holistis
Yaitu tinjauan secara lebih dalam untuk mencapai kebenaran secara
utuh, dimana objek dilihat dari interaksi dengan seluruh kenyataannya.
5.
Kesinambungan Historis
Jika ditinjau dari perkembangannya, manusia itu adalah makhluk
historis. Manusia disebut demikian karena ia berkembangan dalam pengalaman dan
fikiran.
6.
Idealisasi
Proses untuk membuat ideal, artinya upaya dalam penelitian untuk
memperoleh hasil yang ideal atau sempurna.
7.
Komparasi
Usaha memperbandingkan sifat hakiki dalam objek penelitian sehingga
dapat menjadi lebih jelas dan lebih tajam.
8.
Heuristika
Metode untuk mengatur jalan baru secara ilmiah untuk memecahkan
masalah.
9.
Analogikal
Filsafah meneliti arti, nilai dan maksud yang diekspresikan dalam
fakta dan data.
10. Deskripsi
Seluruh hasil penelitian harus dapat dideskresikan.
c.
Metodologi Ilmu Pengetahuan
Metodologi
adalah pengkajian mengenai model atau bentuk metode- metode, aturan-aturan yang
harus dipakai dalam kegiatan ilmu pengetahuan. Jika dibandingkan antara metode
dengan metodologi, maka metodologi lebih bersifat umum dan metode lebih
bersifat khusus. Metode ilmiah yang digunakan mempunyai latar belakang yaitu
pengetahuan.
Dengan adanya
latar belakang yang demikian itu, maka metode ilmiah juga cenderung
bermacam-macam, tergantung kepada watak bahan atau problem yang diselidiki.
Diantara beberapa jenis, metode observasi adalah yang paling sedikit dipakai
oleh jenis ilmu pengetahuan apapun. Dengan metode obeservasi, pengamatan yang
tepat dan objektif adalah mutlak dalam ilmu pengetahuan. Dengan metode ilmiah
akan diperoleh pengetahuan yang kebenarannya dapat diandalkan, sebab metode
ilmiah menuntut urutan kerja yang objektif, sistematik, dan rasional.
·
Keunggulan metode ilmiah
Penerapan metode ilmiah di setiap penyelesaian masalah dapat
melatih kebiasaan berpikir yang sistematis, logis, dan analitis.
·
Keterbatasan metode ilmiah
Adanya kelemahan panca indera maupun keterbatasan peralatan. Sulit
untuk memilih fakta yang benar-benar berkaitan dengan masalah yang akan
dipecahkan.
d.
Susunan Ilmu Pengetahuan
Definisi ilmu
bagaikan bangunan yang tersusun oleh batu bata. Unsur – unsur dasarnya tidak
dapat dipenuhi secara langsung dari alam sekitar tetapi melewati observasi.
Definisi
dilakukan melalui penjelasan istilah yang belum diketahui dengan memakai
istilah – istilah yang sudah diketahui. Istilah yang perlu didefinisikan
disebut definiendum, yang mendefinisikan definiens. Secara metodologis,
definisi memajukan bahas ilmiah. Atau dalam lingkup ilmu, definisi mengubah
data observasi menjadi data yang dapat dirumuskan secara lebih teoritis.
Pengertian – pengertian dalam ilmu. Dalam struktur struktur limas ilmu, ada
lima asas yaitu observasi, empiris, istilah terbuat, istilah timbrung, dan
istilah teoritis.
e.
Langkah –langkah dalam Ilmu Pengetahuan
1.
Merumuskan Masalah
2.
Mengumpulkan data
3.
Merumuskan hipotesis
4.
Membuat analisis untuk mendapatkan kesimpulan
5.
Penarikan kesimpulan
Secara bahasa objektivitas dapat dipahami
sebagai sebuah sikap yang menggambarkan adanya kejujuran, bebas dari
pengaruh pendapat dan pertimbangan pribadi atau golongan dan lain-lain,
khususnya dalam upaya untuk mengambil sebuah keputusan atau tindakan. Dalam
konteks keilmuan objektivitas hanya dapat diakui jika dan hanya jika melalui
prosedur yang abash berdasarkan konsep metode ilmiah maka penemuan tersebut
bisa disebut objektif dan jika tidak maka disebut sesuatu yang tidak objektif
dan karenanya dianggap nisbi.
PINTU V
EPISTEMOLOGI
BAYANI, BURHANI, DAN IRFANI
Epistemologi
berasal dari bahasa Yunani terdiri dari dua kata yakni episteme dan logos.
Episteme berarti pengetahuan sedangkan logos bermakna pengetahuan, Oleh karena
itu epistemology itu disebut teori pengetahuan (Theory of knowledge), dimana
dalam bahasa Arab disebut Nazhriyah al’Ma’rifah.
Epistemologi
membahas tentang hakikat pengetahuan dan dalam hal ini terbagi kepada dua
aliran yakni, realisme dan idealisme. Realisme menyatakan hakikat pengetahuan
adalahapa yang ada dalam gambar atau copy yang sebenernya dari alam nyata.
Gambaran atau pengetahuan yang ada dalam akal adalah copy asli yang terdapat
diluar akal. Pengetahuan menurut teori ini sesuai dengan kenyataan. Sedangkan
idealisme menganggap pengetahuan itu adalah gambar menurut pendapat atau
penglihatan. Pengetahuan tidak mengambarkan yang sebenarnya karena pengetahuan
yang sesuai dengan kenyataan adalah mustahil.
A. EPISTEMOLOGI
BAYANI
Bayani
adalah metode pemikiran khas Arab yang didasarkan atas otoritas teks (nash),
secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung artinya memahami teks
sebagai pengetahuan jadi, dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran.
Secara tidak langsung berarti memahami teks sebagai pengetahuan mentah sehingga
perlu tafsir dan penalaran.
Sumber
Pengetahuan Bayani
Meski
menggunakan metode rasional, filsafat seperti digagas syahtibi, epistemology
bayani tetap berpijak pada teks (nash). Dalam ushul al-fiqh, yang dimaksud nash
sebagai sumber pengetahuan bayani adalah al-qur’an dan as-sunnah.
Metode dan Pendekatan yang Digunakan dalam Bayani
-
Metode Qiyas
-
Metode Istibath/Istidlal
Pendukung
dan Validitas Keilmuan Bayani
-
Pendukung Keilmuwan Bayani : Corak epistemology bayani didukung oleh pola
piker kaum teolog/ahli kalam, ahli fiqh dan ahli bahasa. Pola piker tekstual
bayani lebih dominan secara politis dann membentuk corak pemikiran keislaman
yang hegemonik.
-
Validitas Keilmuan Bayani : Validitas keilmuan bayani tergantung pada
pendekatan dan keserupaan teks atau nash dan realitas. Otoritas teks dan
otoritas salaf yang dibakukan dalam kaidah-kaidah metodologi ushul fiqh klasik
lebih diunggulkan daripada sumber otoritas keilmuan yang lain seperti ilmu-ilmu
kealaman (kauniyah), akal (aqliyah), dan intuisi (wijdaniyah).
B.
EPISTEMOLOGI BURHANI
Al-Burhani (demostrative),
secara sederhana, bisa diartikan sebagai suatu aktivitas berpikir untuk
menetapkan kebenaran proposisi (qadliyah) melalui pendekatan deduktif
(al-istintaj) dengan mengaitkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain
yang telah terbukti kebenarannya secara aksiomatik (badhihi).
1.
Pengertian Burhani
Secara Umum : Aktifitas nalar yang merupakan kebenaran
dari suatu premis.
Dalam perspektif logika
(al-mantiq) : Aktifitas berpikir untuk menetapkan kebenaran suatu premis
melalui metode penyimpulan (al-istintaj).
2.
Karakteristik Epistemologi Burhani
Setiap ilmu burhani berpola
dari nalar burhani dan nalar burhani bermula dari proses abstraksi yang
bersifat akali terhadap realitas sehingga munculnya makna, sedang makna sendiri
butuh aktualisasi sebagai upaya untuk bisa dipahami dan dimengerti, sehingga
disinilah ditempatkan kata-kata. Untuk mendapatkan sebuahn pengetahuan, burhani
menggunakan aturan silogisme yang merupakan salah satu ajaran penting dalam
logika Aristoteles.
Aplikasi dari bentukan
silogisme ini haruslah melewati 3 tahapan yaitu tahap pengertian (ma’qulat),
tahap pernyataan (ibarat) dan tahap penalaran (tahlilat).
3.
Logika dalam Epistemologi Burhani
-Semua makhluk hidup akan mati. (Premis mayor)
-Andi adalah makhluk hidup. (Premis minor)
-Oleh karena itu Andi juga akan mati
(Kesimpulan)
C.
EPISTEMOLOGI IRFANI
1.
Pengertian Epistemologi Irfani
Irfan dari kata dasar bahasa Arab semakna
dengan makrifat, berarti pengetahuan. Tetapi ia berbeda dengan ilmu (‘ilm).
Irfan atau makrifat berkaitan dengan pengetahuan yang diperoleh secara langsung
lewat pengalaman (experience), sedang ilmu menunjuk pada pengetahuan yang
diperoleh lewat transformasi (naql) atau rasionalitas (aql).
2.
Sumber Asal Irfani
Pertama, kelompok yang menggap bahwa irfan
islam berasal dari sumber Persia dan majusi. Kedua, kelompok yang beranggapan
bahwa irfan berasal dari sumber-sumber Kristen. Ketiga, kelompok beranggapan
bahwa irfan ditimba dari india. Keempat, kelompok yang menggap irfan berasal
dari sumber-sumber Yunani, khususnya Neo-Platonisme dan Hermes.
3.
Konsep Epistemologi Irfani
Pengetahuan irfani tidak diperoleh berdasarka
analisa teks tetapi dengan olah ruhanil dimana dengan kesucian hati, diharapkan
Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Dengan demikian
pengetahuan irfani setidaknya diperoleh melalui tiga tahapan:
a. Persiapan
b. Penerimaan
c. Pengungkapan
PINTU VI
ILMU
PENGETAHUAN DALAM PRESPEKTIF ISLAM
Secara
historis, pelaksanaan pendidikan Islam telah mengalami dinamika perkembangan
yang pesat sesuai dengan konteks perkembangan zaman kaum muslimin. Prototype
pendidikan Islam masa Nabi terus mengalami perkembangan di masa-masa setelah
beliau wafat. Perkembangan pendidikan Islam juga diiringi dengan munculnya
tokoh-tokoh pemikir kependidikan Islam. Masing-masing dari pemikir tersebut
memiliki konsep pemikiran yang berbeda-beda antara pemikir satu dengan pemikir
lainnya. Dan pemikiran-pemikiran tersebut dijadikan acuan dalam pengembangan
pendidikan Islam sampai sekarang.
A. Perkembangan
Ilmu di Dunia Islam
Islam
sangat menghargai ilmu, ini terlihat sejak kemunculan agama Islam itu sendiri
yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Menurut Harun Nasution, keilmuan berkembang
pada zaman Islam klasik (650-1250 M). Keilmuan ini dipengaruhi oleh presepsi
tentang bagaimana tingginya kedudukan akal seperti yang terdapat dalam
al-Qur’an dan Hadis. Sekitar abad ke 6-7 Masehi obor kemajuan ilmu pengetahuan
berada dipangkuan peradaban Islam. Dalam lapangan kedokteran, Al-awi karya al-Razi merupakan sebuah
ensiklopedi mengenai seluruh perkembangan ilmu kedokteran sampai masanya.
Rhazas mengarang suatu Encyclopedia ilmu kedokteran. Ibnu Sina menulis
buku-buku kedokteran. Al-Khawarizmi menyusun buku aljabar tahun 825 M. Selain
disiplin ilmu diatas, sebagian umat Islam juga menekuni logika dan filsafat.
Pada
zaman itu Islam juga menjadi pemimpin di bidang Ilmu Alam. Istilah zenith,
nadir, dan azimut membuktikan hal itu. Sumbangan Sarjana Islam dapat
diklasifikasikan ke dalam tiga bidang, yaitu:
a.
Menerjemahkan peninggalan bangsa Yunani, menyebarluaskan sedemikian
rupa, sehingga dapat dikenal dunia Barat seperti sekarang ini.
b.
Memperluas pengamatan dalam lapangan ilmu kedokteran, obat-obatan,
astronomi, ilmu kimia, ilmu bumi dan ilmu tumbuh-tumbuhan,
c.
Menegaskan sistem desimal dan dasar-dasar aljabar.
B. Peranan Islam
dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Orang yang
pertama kali belajar dan mengajarkan filsafat dari orang-orang sophia atau
sophist (500-400 SM) adalah socrates (469-399 SM), kemudian diteruskan oleh
Plato (427-457 SM). Setelah itu diteruskan oleh muridnya yang bernama
Aristoteles (384-322 SM). Setelah zaman Aristoteles, sejarah tidak mencatat
lagi generasi penerus hingga munculnya Al-Kindi pada tahun 801 M. Sepeninggal
al-Kindi, muncul filosof-filosof Islam
kenamaan yang terus mengembangkan filsafat. Spanyol Islam telah mencatat satu
lembaran budaya yang sangat brilian dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan
sebagai jembatan penyeberangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke
Eropa pada abad ke-12 M. Kemajuan-kemajuan umat Islam ini bertahan hingga
beberapa abad sebelum akhirnya meredup seiring dengan runtuhnya dinasti Umayyah
dan dinasti Abbasiyah.
Pengaruh ilmu
pengetahuan Islam atas Eropa yang sudah berlangsung sejak abad ke-12 M itu
menimbulkan gerakan kebangkitan kembali pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-14
M. Berkembangnya pemikiran Yunani di Eropa kali ini adalah melalui
terjemahan-terjemahan Arab yang dipelajari dan kemudian diterjemahkan kembali
ke dalam bahasa latin