Sabtu, 17 Desember 2016

filsafat ilmu

PINTU I
PENGETAHUAN, ILMU PENGETAHUAN, DAN FILSAFAT ILMU
A.     FILSAFAT SEBAGAI ILMU PENGETAHUAN
Pengetahuan merupakan hasil “ Tahu “ dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu yang mana penginderaan ini terjadi melalui panca indera. Pada prinsipnya ilmu merupakan usaha untuk mengorganisir dan mensitematisasikan sesuatu. Ilmu merupakan suatu bentuk aktiva yang dengan melakukannya umat manusia memperoleh suatu lebih lengkap dan lebih cermat tentang alam masa lampau, sekarang dan kemudian serta suatu kemampuan yang meningkat untuk menyesuaikan dirinya.
Ada tiga dasar ilmu yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Penegasan ilmu diletakkan pada tolak ukur dari sisi fenomenaal dan struktural. Dalam dimensi fenomenal ilmu menampakkan diri pada hal-hal berikut : Masyarakat , Proses , Produk.
Filsafat sebagai proses berpikir yang sistematis dan radikal juga memiliki objek material yaitu segala yang ada. Ada yang tampak adalah alam fisik/empiris, sedangkan yang tidak tampak adalah alam metafisika.

B.     PERBEDAAN FILSAFAT DENGAN AGAMA
v  Filsafat
·         Filsafat dalam cara kerjanya bertolak dari akal.
·         Filsafat banyak kaitan dengan berfikir.
·         Filsafat membahas sesuatu dalam rangka melihat kebenaran yang diukur, apakah sesuatu itu logis atau bukan.
v  Agama
·         Agama bertolak dari wahyu.
·         Agama banyak terkait dengan pengalaman.
·         Agama tidak selalu mengukur kebenaran dari segi logisnya karena agama kadang-kadang tidak memperhatikan aspek logisnya.

C.     PERBEDAAN PENGETAHUAN DAN KEBIJAKSANAAN
v  Pengetahuan
-            Pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai metafisik maupun fisik.
-            Pengetahuan berakar dari pada adat dan tradisi yang menjadi kebiasaan dan pengulangan-pengulangan.
-            Pencarian pengetahuan lebih cenderung trial and error dan berdasarkan pengalaman belaka.
-            Runag lingkup pengetahuan secara ontologi, epistemologi dan aksiologi ada tiga, yaitu ilmu, agama dan seni.
v  Kebijaksanaan
-            Kebijaksanaan bukanlah soal teori namun soal praksis. Bagaimana kita bertindak dan bersikap jauh lebih penting daripada sekedar berteori.
-            Kebijaksanaan mengendalikan visi integrative.
-            Tiga jenis pengetahuan ( ilmiah, moral, dan religius ) masing-masing memiliki peranan dalam menjadikan seseorang bijaksana, karena manusia harus selalu melihat ke atas ( Tuhan ), ke kanan-kiri ( sesama ), dan ke luar ( alam ).

D.     RUANG LINGKUP FILSAFAT ILMU
a)      Pengertian Filsafat Ilmu
Menurut hemat Limas Dodi, filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologinya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu, seperti obyek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut? Dan lain sebagainya.
b)      Obyek Filsafat Ilmu
Dalam perspektif ini dapat diuraikan bahwa filsafat ilmu pada prinsipnya memiliki dua obyek substansif dan dua obyek instrumentatif, yaitu :
1.      Obyek Substantif, yang terdiri dari dua hal antara lain :
-       Fakta (Kenyataan)
Empiris yang dapat dihayati oleh manusia dalam memahami fakta.
-          Kebenaran
Rumusan substantif tentang kebenaran ada beberapa teori, menurut Michael Williams ada lima teori kebenaran, yaitu : Kebenaran Preporsisi, Kebenaran Korespondensi, Kebenaran Koherensi atau Konsistensi, Kebenaran Performatif, dan Kebenaran Pragmatik.
2.      Obyek Instrumentatif, yang terdiri dari dua hal antara lain :
-       Konfirmasi
Dalam hal konfirmasi sampai saat ini dikenal ada tiga teori konfirmasi, yaitu : Decision Theory, Estimation Theory, dan Reliability Analysis.
-       Logika Inferensi
Studi logika adalah studi tentang tipe-tipe tata pikir.
c)      Ruang Lingkup Filsafat Ilmu
Filsafat oleh para filosofi disebut sebagai induk ilmu. Dan dalam taraf peralihan ini filsafat tidak mencakup , keseluruhan tetapi sudah menjadi sektoral.
d)      Problema Filsafat Ilmu
1.      Problem menurut Michael Berry
-       Bagaimanakah kuantitas dan rumusan masalah dalam teori-teori ilmiah bertaalian dengan peristiwa-peristiwa dalam dunia alamiah diluar pikiran kita?
-       Bagaimanakah dapat dikatakan bahwa teori/dalil ilmiah adalah benar berdasarkan induksi dari sejumlah percobaan yang terbatas?
2.      Problem menurut Victor Lenzen
-       Struktur ilmu yaitu metode dan bentuk pengetahuan ilmiah.
-       Pentingnya ilmu bagi praktek dan pengetahuan tentang realitas.
3.      Problem menurut J.J.C. Smart
-       Pertanyaan-pertanyaan tentang ilmu.
-       Kajian filsafati yang mempergunakan ilmu.
e)      Manfaat Belajar Filsafat Ilmu
Berikut adalah beberapa manfaat dari belajar filsafat ilmu :
1.      Menumbuh-kembangkan ilmu pengetahuan menuju kemuliaan sehingga mampu menebus dimensi sekularisme dimensi ilmu pengetahuan.
2.      Membentuk dan mengembangkan wawasan epistemology ilmu pengetahuan sehingga moralitas kesarjanaan, yaitu sifat ilmiah menjadi popular.
PINTU II
SISTEMATIKA FILSAFAT
A.     EPISTEMOLOGI
-          Secara harfiah, episteme berarti pengetahuan sebagai upaya intelektual untuk menempatkan sesuatu dalam kedudukan setepatnya
-          Epistemologi merupakan salah satu cabang filsafat yang mempersoalkan masalah hakikat pengetahuan.
-          Epistemologi juga disebut dengan logika, yaitu ilmu tentang pikiran. Logika dibedaakan menjadi 2, yaitu
a.       Logika minor, mempelajari strukturberfikir da dalil-dalilnya, seperti silogisme.
b.      Logikamayor, mempelajari hal pengetahuan, kebenaran,dan kepastian yang sama ruanglingkupnya seperti epistemologi.
-          Epistemologi  juga disebut dengan teori pengetahuan ( theory of knowledge), dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula sumber, struktur,  metode dah validitasnya pengetahuan.
Cara Kerja Epistemologi
Harold Titus menjelaskan 3 persoalan dalam bidang epistemologi
1.      Apakah sumber   pengetahuan itu, dan darimanakah datangnya pengetahuan yang benar, serta bagaimana mengetahuinya?
2.      Apakah sifat dasarnya, adakah dunia yang benar-benaer dipikiran kita, serta kalau ada, apakah kita dapat mengetahuinya?
3.      Apakah pengetahuan itu valid, dan bagaimana membedakan benar atau salah?
Kattsof menyatakan bahwa pertanyaan epistemologi ada 2 macam, yakni
a.       Epistemologi itu kefilsafatan yang berhubungan dengan psikologi,dan pertanyaannya yang menyayangkan hubungan antara pengetahuan dan objeknya.
b.      Epistemologi adalah sumber, sarana, dan tata cara, menggunakan itu untuk mencapai pengetahuan.
Metode Pendekatan
Pengetahuan yang diperoleh manusia melalui akal, indera dan lain lain mempunyai metode tersendiri dalamteori pengetahuan.
1.      Metode Induktif.
2.      Deduktif.
3.      Positivisme.
4.      Kontemplatif.
5.      Dialektis.
Macam-macam epistemologi
Menurut gejala pengetahuan
1.      Epistemologi Metafisis
2.      Epistemologi skeptis
3.      Epistemologi kritis
Berdasarkan titik tolak pendekatannya
1.      Epistemologi individual.
2.      Epistemologi sosial.
B. ONTOLOGI
-          Menurut bahasa, Ontologi berasal dari bahasa Yunani “on/ontos= ada”, dan “Logos=ilmu”. Jadi ontologi adalah ilmu tentang yang ada.
Sedangkan menurut istilah ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality yang berbentuk jasmani/konkret maupun rohani/abstrak.
-          Pengertian yang paling umum dari ontologi ialah merupakan bagian dari filsafat yang mencoba mencari hakikat dari sesuatu. Ontologi memberikan penjelasan secara eksplisit dari konsep  terhadap representasi pengetahuan pada sebuah knowledge base (pengetahuan dasar). Dengan demikian ontologi juga merupakan sebuah teori tentang suatu makna dari suatu objek, property dari suatu obyek, serta relasi objek tersebut yang mungkin terjadi pada suatu pengetahuan. Dan intinya, ontologi merupakan studi tentang sesuatu yang ada.

-          Bagus memberikan karakteristik terhadap ontologi sebagai berikut:
1.      Ontologi adalah studi tentang arti “ada” dan “berada”, tentang ciri-ciri esensial dari yang ada dalam dirinya sendiri, menurut bentuk yang paling abstrak.
2.      Ontologi adalah cabnag filsafat ilmu yang mempelajari tata dan struktur dan realitas dalam arti seluas mungkin, dengan menggunakan kategori-kategori seperti: ada atau menjadi, aktualitas atau potensialitas, nyata atau kenampakan, esensi atau eksistensi, kesempurnaan, ruang dan waktu, perubahan, dsb.
3.      Ontologi adalah cabang filsafat yang mencoba menuliskan hakikat terakhir yang ada, yaitu yang satu, yang absolute, bentuk abadi, sempurna, dan keberadaan segala sesuatu yang mutlak bergantung kepada-Nya.
4.      Cabang filsafat yang mempelajari tentang status realitas apakah nyata atau semu, apakah pikiran itu nyata, dan sebagainya.

-          Menurut SURIASUMATRI ontologi membahas tentang apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tau, dengan kata lain suatu pengkajian mengenai teory tentang “ada”.
-          Menurut mereka, ontologi yaitu merupakan azas dalam menerapkan batas atau ruang lingkup wujud yang menjadi objek penelaahan (objek ontologis atau objek formal dari pengetahuan) serta penafsiran tentang hakekat realita (metafisika) dari objek ontologi atau objek formal tersebut dapat merupakan landasan ilmu yang menanyakan apa yang dikaji oleh pengetahuan dan biasanya berkaitan dengan alam kenyataan dan keberadaan.

Aliran dalam Ontologi
-          Ontologi yang bersahaja.
-          Pendekatan kuantitatif akan mempertanyakan “apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?”, sedangkan pendekatan kualitatif akan menanyakan “di kesimpulannya, apakah yang merupakan kenyataan itu?”
-          Ontologi Monistik

Cara menyelesaikan masalah
-          Naturalisme.
-          Materialisme.
-          Idealisme,
-          Dualisme.
-          Agnositisme


C.     AKSIOLOGI
-          Menurut bahasa Yunani, aksiologi berasal dari kata axios artinya nilai dan logos artinya teori atau ilmu. Menurut KBBI, aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai khususnya etika. Dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan aksiologi disamakan dengan value and valuation.
-          Nilai digunakan sebagai kata benda abstrak, dalam arti sempit seperti baik, menarik dan bagus. Sedangkan dalam arti luas mencakup sebagai tambahan segala bentuk kewajiban, kebenaran, kesucian.
-          Dari definisi diatas dapat dilihat permasalahan utama adalah mengenai nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Teori tentang nilai yang dalam filsafat mengacu pada masalah etika dan estetika. Aksiologi ilmu terdiri dari nilai-nilai yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan.
-          Nilai kegunaan ilmu, untuk mengetahui kegunaan filsafat ilmu atau unutk apa filsafat ilmu itu digunakan, kita dapat memulainya dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, yaitu:
1.      Filsafat sebagai kumpulan teori digunakan memahami dan mereaksi dunia pemikiran.
2.      Filsafat sebagai pandangan hidup.
3.      Filsafat sebagai metodologi dalam memecahkan masalah.
-          Nilai itu bersifat objektif, tapi kadang-kadang subjektif. Dikatakan objektif jika nilai-nilai tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. Nilai menjadi subjektif apabila subjek perperan dalam memberi penilaian.


PINTU III
Rasionalisme, Empirisme dan Kritisisme
A.     Rasionalisme
Aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia memperoleh pengetahuan melalui kegiatan menangkap objek. Bagi aliran ini, kekeliruan pada aliran empirisme yang disebabkan kelemahan alat indera dapat dikoreksi, seandainya akal digunakan. Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indera dalam memperoleh pengetahuan. Pengalaman indera diperlukan untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja, tetapi sampainya manusia kepada kebenaran adalah semata-mata akal.
Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak dalam ide dan bukannya didalam diri barang sesuatu
Dari penjabaran diatas, yaitu aliran rasionalisme berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang mencukupi dan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal). Hanya pengetahuan yang diperoleh melalui akal lah yang memenuhi syarat yang dituntut oleh sifat umum dan yang perlu mutlak. Tokoh-tokoh filsafat rasionalisme diantaranya:
1.      Rene Descartes (1596-1650)
2.      Gootfried Eihelm Von Leibniz
3.      Blaise Pascal
4.      Spinoza

B.     Empirisme
kata ini berasal dari kata Yunani empeirisko artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Dan bila dikembalikan kepada kata Yunaninya, pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman inderawi. Pengetahuan inderawi bersifat parsial. Jadi pengetahuan inderawi berada menurut perbedaan indera dan terbatas pada sensibilitas organ-organ tertentu.
John Locke, bapak empiris Britania mengemukakan teori tabula rasa (sejenis buku catatan kosong). Maksudnya ialah bahwa manusia pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, lantas ia memiliki pengetahuan.
David Hume, salah satu tokoh empirisme mengatakan bahwa manusia tidak membawa pengetahuan bawaan dalam hidupnya. Sumber pengetahuan adalah pengamatan. Pengamatan memberikan dua hal, yaitu:
1.      Kesan-kesan (impression)
2.      Ide-ide (ideas)
Diantara tokoh dan pengikut aliran empirisme adalah:
1.      Francis Bacon (1210-1292 M)
2.      Thomas Hobbes (1588-1679 M)
3.      John Locke (1632-1704 M)
4.      David Hume (1711-1776 M)
5.      Herbert Spencer (1820-1903 M)
Jadi, dalam empirisme sumber utama untuk memperoleh pengetahuan adalah data empiris yang diperoleh dari panca indera. Akal tidak berfungsi banyak, kalaupun ada, itu sebatas ide yang kabur. Namun aliran ini mempunyai banyak kelemahan, antara lain:
1.      Indera terbatas
2.      Indera menipu
3.      Objek yang menipu
4.      Berasal dari indera dan objek sekaligus.

C.     Kritisisme
Aliran ini dimulai di inggris, kemudian prancis dan selanjutnya menyebar keseluruh eropa, terutama di Jerman. Dijerman pertentangan antara aliran rasionalisme dan empirisme terus berlanjut. Masing-masing berebut otonomi. Aliran filsafat yang dikenal dengan kritisisme adalah filsafat yang di introdusir oleh Immanuel Kant. Filsafat ini memulai pelajarannya dengan menyelidiki batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia.
            Pertentangan antara rasionalisme dan empirisme dicoba untuk diselesaikan oleh Kant dengan kritisismenya. Adapun ciri-ciri kritisisme diantaranya adalah sebagai berikut:
a.       Menganggap bahwa objek pengenalan itu berpusat pada subjek bukan pada objek.
b.      Menegaskan keterbatasn kemampuan rasio manusia untuk mengetahui realitas atau hakikiat sesuatu.
Pendirian aliran rasionalisme dan empirisme dangat bertolak belakang. Immanuel Kant mengadakan penyelesaian atas pertikaian itu dengan filsafatnya yang dinamakan kritisisme. Untuk itulah ia menulis 3 buku yang berjudul:
1.      Kritik der Rainen Vernuft (kritik atas rasio murni)
2.      Kritik der Urteilskraft (kritik atas dasar pertimbangan)
3.      Kritik rasio praktis
Menurut Kant, dalam pengenalan inderawi selalu sudah ada 2 bentuk apriori, yaitu ruang dan waktu. Kedua-duanya berakar dalam struktur subyek sendiri. Memang ada suatu realitas terlepas dari subyek yang mengindera, tetapi realitas tidak pernah dikenalinya. Melalui filsafatnya, Kant bermaksud memugar sifat objektivitas dunia ilmu pengetahuan.
Dan berikut kami paparkan kritik terhadap rasionalisme, empirisme dan kombinasi antara keduanya:
1.      Kritik Terhadap Rasionalisme
dalam hal ini ada tiga macam kritik yang dilontarkan Kant yaitu:
a.      Critique of Pure Reason (kritik atas rasio murni).
b.      Critique of Practical Reason (kritik atas rasio praktis)
c.       Critique of judgment atau kritik atas daya pertimbangan

Bentuk lain dari dari kritik terhadap rasionalisme adalah sebagai berikut:
1.      Pengetahuan rasional dibentuk oleh idea yang tidak dapat dilihat maupun diraba.
2.      Banyak diantara manusia yang berpikiran jauh, merasa bahwa mereka menemukan kesukaran yang besar dalam menerapkan konsep rasional kepada masalah kehidupan yang praktis.
3.      Teori rasional gagal dalam menjelaskan perubahan dan pertambahan pengetahuan manusia selama ini.


2.      Kritik terhadap Empirisme
Empirisme didasarkan pada pengalaman. Tetapi apakah yang disebut pengalaman?
a.       Sekali waktu dia hanya berarti rangsangan panca indera.
b.      Sebuah teori yang sangat menitikberatkan pada persepsi panca indera kiranya melupakan kenyataan bahwa panca indera manusia adalah terbatas dan tidak sempurna.
c.       Empirisme tidak memberikan kita kepastian.

3.      Kombinasi antara Rasionalisme dan Empirisme
Terdapat suatu anggapan yang luas bahwa ilmu pada dasarnya adalah metode induktif-empiris dalam memperoleh pengetahuan. Memang terdapat beberapa alasan untuk mendukung penilaian ini, karena ilmuwan mengumpulkan fakta-fakta yang tertentu, melakukan pengamatan dan mempergunakan data inderawi.

PINTU IV
METODOLOGI ILMU PENGETAHUAN
a.      Pengertian Metodologi
Metode sendiri bisa diartikan ilmu yang mempelajari tentang metode-metode. Berasal dari bahasa yunani yaitu Methodos. Menurut bahasa (etimologi), metode berasal dari bahasa yunani, yaitu meta (sepanjang), hodos (jalan). Jadi metode adalah suatu ilmu tentang cara atau langkah-langkah yang ditempuh dalam suatu disiplin tertentu untuk mencapai tujuan tertentu.
Menurut istilah “Metodologi” berasal dari bahasa yunani yakni methodos dan logos, methodos berarti cara, kiat dan seluk beluk yang berkaitan dengan upaya menyelesaikan sesuatu, sementara logos berarti ilmu pengetahuan, cakrawala dan wawasan. Dengan demikian metodelogi adalah metode atau cara yang berlaku dalam kajian atau penelitian.
Metodologi adalah masalah yang sangat penting dalam sejarah pertumbuhan ilmu. Louay Safi mendefinisikan metodologi sebagai bidang penelitian ilmiah yang berhubungan dengan pembahsan tentang metode-metode yang digunakan dalam kajian fenomena alam dan manusia atau dengan kata lain metodologi adalah bidang penelitian ilmiah yang membenarkan, mendeskripsikan dan menjelaskan aturan-aturan, prosedur-prosedur sebagai metode ilmiah.
b.      Unsur – unsur Metodologi
Unsur – unsur metodologi sebagaiaman telah dirumuskan oleh Anton Bakker dan Achmad Zubair dalm buku Metodeologi Penelitian Filsafat (1994), antara lain sebagai berikut :
1.      Interpretasi
Artinya menafsirkan, membuat tafsiran, tetapi yang tidak bersifat subjektif melainkan harus bertumpuh pada evidensi objektif untuk mencapai kebenaran yang autentik.
2.      Induksi dan Deduksi
Dikatakan oleh Beerling, setiap ilmu terdapat penggunaan metode induksi dan deduksi, menurut pengertian siklus empiris.
3.      Koherensi Intern
Yaitu usaha untuk memahami secara benar guna memperoleh hakikat dengan menunjukkan semua unsur structural di lihat dalam suatu sruktur yang konsisten, sehingga benar-benar merupakan internal structure atau internal relation.
4.      Holistis
Yaitu tinjauan secara lebih dalam untuk mencapai kebenaran secara utuh, dimana objek dilihat dari interaksi dengan seluruh kenyataannya.
5.      Kesinambungan Historis
Jika ditinjau dari perkembangannya, manusia itu adalah makhluk historis. Manusia disebut demikian karena ia berkembangan dalam pengalaman dan fikiran.
6.      Idealisasi
Proses untuk membuat ideal, artinya upaya dalam penelitian untuk memperoleh hasil yang ideal atau sempurna.
7.      Komparasi
Usaha memperbandingkan sifat hakiki dalam objek penelitian sehingga dapat menjadi lebih jelas dan lebih tajam.
8.      Heuristika
Metode untuk mengatur jalan baru secara ilmiah untuk memecahkan masalah.
9.      Analogikal
Filsafah meneliti arti, nilai dan maksud yang diekspresikan dalam fakta dan data.
10.  Deskripsi
Seluruh hasil penelitian harus dapat dideskresikan.

c.       Metodologi Ilmu Pengetahuan
Metodologi adalah pengkajian mengenai model atau bentuk metode- metode, aturan-aturan yang harus dipakai dalam kegiatan ilmu pengetahuan. Jika dibandingkan antara metode dengan metodologi, maka metodologi lebih bersifat umum dan metode lebih bersifat khusus. Metode ilmiah yang digunakan mempunyai latar belakang yaitu pengetahuan.
Dengan adanya latar belakang yang demikian itu, maka metode ilmiah juga cenderung bermacam-macam, tergantung kepada watak bahan atau problem yang diselidiki. Diantara beberapa jenis, metode observasi adalah yang paling sedikit dipakai oleh jenis ilmu pengetahuan apapun. Dengan metode obeservasi, pengamatan yang tepat dan objektif adalah mutlak dalam ilmu pengetahuan. Dengan metode ilmiah akan diperoleh pengetahuan yang kebenarannya dapat diandalkan, sebab metode ilmiah menuntut urutan kerja yang objektif, sistematik, dan rasional.
·         Keunggulan metode ilmiah
Penerapan metode ilmiah di setiap penyelesaian masalah dapat melatih kebiasaan berpikir yang sistematis, logis, dan analitis.
·         Keterbatasan metode ilmiah
Adanya kelemahan panca indera maupun keterbatasan peralatan. Sulit untuk memilih fakta yang benar-benar berkaitan dengan masalah yang akan dipecahkan.
d.      Susunan Ilmu Pengetahuan
Definisi ilmu bagaikan bangunan yang tersusun oleh batu bata. Unsur – unsur dasarnya tidak dapat dipenuhi secara langsung dari alam sekitar tetapi melewati observasi.
Definisi dilakukan melalui penjelasan istilah yang belum diketahui dengan memakai istilah – istilah yang sudah diketahui. Istilah yang perlu didefinisikan disebut definiendum, yang mendefinisikan definiens. Secara metodologis, definisi memajukan bahas ilmiah. Atau dalam lingkup ilmu, definisi mengubah data observasi menjadi data yang dapat dirumuskan secara lebih teoritis. Pengertian – pengertian dalam ilmu. Dalam struktur struktur limas ilmu, ada lima asas yaitu observasi, empiris, istilah terbuat, istilah timbrung, dan istilah teoritis.
e.       Langkah –langkah dalam Ilmu Pengetahuan
1.      Merumuskan Masalah
2.      Mengumpulkan data
3.      Merumuskan hipotesis
4.      Membuat analisis untuk mendapatkan kesimpulan
5.      Penarikan kesimpulan

f.        Objektivitas Ilmu Pengetahuan dan Sifat Dasar Kebenaran Ilmiah.
Secara bahasa objektivitas dapat dipahami sebagai sebuah sikap yang menggambarkan adanya kejujuran, bebas dari pengaruh pendapat dan pertimbangan pribadi atau golongan dan lain-lain, khususnya dalam upaya untuk mengambil sebuah keputusan atau tindakan. Dalam konteks keilmuan objektivitas hanya dapat diakui jika dan hanya jika melalui prosedur yang abash berdasarkan konsep metode ilmiah maka penemuan tersebut bisa disebut objektif dan jika tidak maka disebut sesuatu yang tidak objektif dan karenanya dianggap nisbi.

PINTU V
EPISTEMOLOGI BAYANI, BURHANI, DAN IRFANI
            Epistemologi berasal dari bahasa Yunani terdiri dari dua kata yakni episteme dan logos. Episteme berarti pengetahuan sedangkan logos bermakna pengetahuan, Oleh karena itu epistemology itu disebut teori pengetahuan (Theory of knowledge), dimana dalam bahasa Arab disebut Nazhriyah al’Ma’rifah.
            Epistemologi membahas tentang hakikat pengetahuan dan dalam hal ini terbagi kepada dua aliran yakni, realisme dan idealisme. Realisme menyatakan hakikat pengetahuan adalahapa yang ada dalam gambar atau copy yang sebenernya dari alam nyata. Gambaran atau pengetahuan yang ada dalam akal adalah copy asli yang terdapat diluar akal. Pengetahuan menurut teori ini sesuai dengan kenyataan. Sedangkan idealisme menganggap pengetahuan itu adalah gambar menurut pendapat atau penglihatan. Pengetahuan tidak mengambarkan yang sebenarnya karena pengetahuan yang sesuai dengan kenyataan adalah mustahil.
A.     EPISTEMOLOGI BAYANI
Bayani adalah metode pemikiran khas Arab yang didasarkan atas otoritas teks (nash), secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung artinya memahami teks sebagai pengetahuan jadi, dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran. Secara tidak langsung berarti memahami teks sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu tafsir dan penalaran.
Sumber Pengetahuan Bayani
Meski menggunakan metode rasional, filsafat seperti digagas syahtibi, epistemology bayani tetap berpijak pada teks (nash). Dalam ushul al-fiqh, yang dimaksud nash sebagai sumber pengetahuan bayani adalah al-qur’an dan as-sunnah.
Metode dan Pendekatan yang Digunakan dalam Bayani
-          Metode Qiyas
-          Metode Istibath/Istidlal
Pendukung dan Validitas Keilmuan Bayani
-          Pendukung Keilmuwan Bayani : Corak epistemology bayani didukung oleh pola piker kaum teolog/ahli kalam, ahli fiqh dan ahli bahasa. Pola piker tekstual bayani lebih dominan secara politis dann membentuk corak pemikiran keislaman yang hegemonik.
-          Validitas Keilmuan Bayani : Validitas keilmuan bayani tergantung pada pendekatan dan keserupaan teks atau nash dan realitas. Otoritas teks dan otoritas salaf yang dibakukan dalam kaidah-kaidah metodologi ushul fiqh klasik lebih diunggulkan daripada sumber otoritas keilmuan yang lain seperti ilmu-ilmu kealaman (kauniyah), akal (aqliyah), dan intuisi (wijdaniyah).
B.     EPISTEMOLOGI BURHANI
Al-Burhani (demostrative), secara sederhana, bisa diartikan sebagai suatu aktivitas berpikir untuk menetapkan kebenaran proposisi (qadliyah) melalui pendekatan deduktif (al-istintaj) dengan mengaitkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain yang telah terbukti kebenarannya secara aksiomatik (badhihi).
1.                  Pengertian Burhani
Secara Umum  : Aktifitas nalar yang merupakan kebenaran dari suatu premis.
Dalam perspektif logika (al-mantiq) : Aktifitas berpikir untuk menetapkan kebenaran suatu premis melalui metode penyimpulan (al-istintaj).
2.                  Karakteristik Epistemologi Burhani
Setiap ilmu burhani berpola dari nalar burhani dan nalar burhani bermula dari proses abstraksi yang bersifat akali terhadap realitas sehingga munculnya makna, sedang makna sendiri butuh aktualisasi sebagai upaya untuk bisa dipahami dan dimengerti, sehingga disinilah ditempatkan kata-kata. Untuk mendapatkan sebuahn pengetahuan, burhani menggunakan aturan silogisme yang merupakan salah satu ajaran penting dalam logika Aristoteles.
Aplikasi dari bentukan silogisme ini haruslah melewati 3 tahapan yaitu tahap pengertian (ma’qulat), tahap pernyataan (ibarat) dan tahap penalaran (tahlilat).
3.                  Logika dalam Epistemologi Burhani
-Semua makhluk hidup akan mati. (Premis mayor)
-Andi adalah makhluk hidup. (Premis minor)
-Oleh karena itu Andi juga akan mati (Kesimpulan)

C.     EPISTEMOLOGI IRFANI

1.                  Pengertian Epistemologi Irfani
Irfan dari kata dasar bahasa Arab semakna dengan makrifat, berarti pengetahuan. Tetapi ia berbeda dengan ilmu (‘ilm). Irfan atau makrifat berkaitan dengan pengetahuan yang diperoleh secara langsung lewat pengalaman (experience), sedang ilmu menunjuk pada pengetahuan yang diperoleh lewat transformasi (naql) atau rasionalitas (aql).

2.                  Sumber Asal Irfani
Pertama, kelompok yang menggap bahwa irfan islam berasal dari sumber Persia dan majusi. Kedua, kelompok yang beranggapan bahwa irfan berasal dari sumber-sumber Kristen. Ketiga, kelompok beranggapan bahwa irfan ditimba dari india. Keempat, kelompok yang menggap irfan berasal dari sumber-sumber Yunani, khususnya Neo-Platonisme dan Hermes.
3.                  Konsep Epistemologi Irfani
Pengetahuan irfani tidak diperoleh berdasarka analisa teks tetapi dengan olah ruhanil dimana dengan kesucian hati, diharapkan Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Dengan demikian pengetahuan irfani setidaknya diperoleh melalui tiga tahapan:
a.       Persiapan
b.      Penerimaan
c.       Pengungkapan

PINTU VI
ILMU PENGETAHUAN DALAM PRESPEKTIF ISLAM
Secara historis, pelaksanaan pendidikan Islam telah mengalami dinamika perkembangan yang pesat sesuai dengan konteks perkembangan zaman kaum muslimin. Prototype pendidikan Islam masa Nabi terus mengalami perkembangan di masa-masa setelah beliau wafat. Perkembangan pendidikan Islam juga diiringi dengan munculnya tokoh-tokoh pemikir kependidikan Islam. Masing-masing dari pemikir tersebut memiliki konsep pemikiran yang berbeda-beda antara pemikir satu dengan pemikir lainnya. Dan pemikiran-pemikiran tersebut dijadikan acuan dalam pengembangan pendidikan Islam sampai sekarang.
A.     Perkembangan Ilmu di Dunia Islam
Islam sangat menghargai ilmu, ini terlihat sejak kemunculan agama Islam itu sendiri yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Menurut Harun Nasution, keilmuan berkembang pada zaman Islam klasik (650-1250 M). Keilmuan ini dipengaruhi oleh presepsi tentang bagaimana tingginya kedudukan akal seperti yang terdapat dalam al-Qur’an dan Hadis. Sekitar abad ke 6-7 Masehi obor kemajuan ilmu pengetahuan berada dipangkuan peradaban Islam. Dalam lapangan kedokteran,  Al-awi karya al-Razi merupakan sebuah ensiklopedi mengenai seluruh perkembangan ilmu kedokteran sampai masanya. Rhazas mengarang suatu Encyclopedia ilmu kedokteran. Ibnu Sina menulis buku-buku kedokteran. Al-Khawarizmi menyusun buku aljabar tahun 825 M. Selain disiplin ilmu diatas, sebagian umat Islam juga menekuni logika dan filsafat.
Pada zaman itu Islam juga menjadi pemimpin di bidang Ilmu Alam. Istilah zenith, nadir, dan azimut membuktikan hal itu. Sumbangan Sarjana Islam dapat diklasifikasikan ke dalam tiga bidang, yaitu:
a.       Menerjemahkan peninggalan bangsa Yunani, menyebarluaskan sedemikian rupa, sehingga dapat dikenal dunia Barat seperti sekarang ini.
b.      Memperluas pengamatan dalam lapangan ilmu kedokteran, obat-obatan, astronomi, ilmu kimia, ilmu bumi dan ilmu tumbuh-tumbuhan,
c.       Menegaskan sistem desimal dan dasar-dasar aljabar.

B.     Peranan Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Orang yang pertama kali belajar dan mengajarkan filsafat dari orang-orang sophia atau sophist (500-400 SM) adalah socrates (469-399 SM), kemudian diteruskan oleh Plato (427-457 SM). Setelah itu diteruskan oleh muridnya yang bernama Aristoteles (384-322 SM). Setelah zaman Aristoteles, sejarah tidak mencatat lagi generasi penerus hingga munculnya Al-Kindi pada tahun 801 M. Sepeninggal al-Kindi, muncul  filosof-filosof Islam kenamaan yang terus mengembangkan filsafat. Spanyol Islam telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brilian dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad ke-12 M. Kemajuan-kemajuan umat Islam ini bertahan hingga beberapa abad sebelum akhirnya meredup seiring dengan runtuhnya dinasti Umayyah dan dinasti Abbasiyah.
Pengaruh ilmu pengetahuan Islam atas Eropa yang sudah berlangsung sejak abad ke-12 M itu menimbulkan gerakan kebangkitan kembali pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-14 M. Berkembangnya pemikiran Yunani di Eropa kali ini adalah melalui terjemahan-terjemahan Arab yang dipelajari dan kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bahasa latin